Cerita Usaha gua nih Bang, Dari Ngeprint Sampai Angkringan. Jadi, Aku mau cerita sedikit nih soal beberapa usaha yang pernah aku jalani. Ada tiga fokus utamaku, yaitu :
- Usaha percetakan (atau kasarnya, tukang fotokopi).
- Usaha angkringan.
- Bisnis online
Modal Awal: Beneran dari Nol !
Percaya enggak percaya, usahaku ini benar-benar dimulai dari nol. Aku sama sekali enggak pernah minta modal dari orang tua.
Jadi, dari masa kuliah, aku sudah nabung. Sedikit demi sedikit, terus aku belikan barang satu per satu. Sampai sekarang, semua ini berdiri tanpa modal dari bank, lho.
Modal pertama kali itu kecil banget, cuma sekitar Rp300.000. Uang itu dari mana? Dari hasil jualan pulsa dan jasa nge-print teman-teman seangkatan. Uang itu aku kumpulkan buat beli printer pertama.
Lalu, setiap bulan aku nambahin modal lagi. Sampai akhirnya di masa kuliah, aku sudah punya tiga printer. Kondisinya waktu itu enggak punya uang, itu pasti. Makanya aku mikir, kita harus usaha. Entah mulai dari jualan pulsa, jualan HP, atau apapun itu. Yang penting menghasilkan dan aku bisa layak untuk kuliah.
Fokus ke UPS: Kenapa Bisa ke Sana ?
Nah, sekarang ini, aku malah lebih fokus ke UPS. Kamu tahu UPS, kan? Itu lho alat yang dipakai buat mem-backup daya listrik. Biasanya dipakai buat WiFi, CCTV, alat keamanan, dan komputer.
Sebenarnya, cuma satu dari seribu orang kali ya yang tahu alat ini.
Kenapa fokus ke sana? Sebenarnya, usaha ini muncul dari kebutuhan. Gini lho ceritanya: Aku buka angkringan, terus sering mati lampu. Kalau mati lampu, otomatis banyak pelanggan yang komplain. Anehnya, komplain utamanya itu bukan soal listrik, tapi soal WiFi yang ikutan mati!
Nah, dari situ aku kepikiran buat pakai UPS di angkringan. Eh, malah jadi fokus bisnis utama sekarang. Gampang kan?
Intinya, usaha itu mudah. Semua itu dimulai dari kebutuhan. Dan dari kebutuhan itu, aku manfaatkan!
Cara “Nakal” Bikin UPS Tahan Lama & Berkah di Tengah Corona
Titik Balik: Kebutuhan Pribadi Jadi Peluang Emas.
Aku mau cerita lagi soal bisnis UPS ini, karena ini memang titik baliknya. Awalnya kan cuma karena aku punya angkringan yang sering mati listrik. Terus, aku mikir, gimana caranya Wi-Fi tetap nyala meskipun listrik mati? Ya solusinya pakai UPS!
Awalnya itu cuma eksperimen iseng
Awalnya itu cuma eksperimen iseng. Aku beli satu unit UPS standar. Pas hype Corona datang, semua orang di rumah dan butuh internet. Makanya, aku langsung nambah empat unit lagi. Tapi masalahnya, UPS standar itu cuma kuat backup sebentar, paling 15 menit. Sementara pelanggan minta tahan lama! Jadi, mau tidak mau, kita harus modif sendiri.
Belajar Mandiri: Kisah Dua Unit yang Terbakar
Jujur ya, aku ini enggak punya background teknik elektro sama sekali. Makanya, aku belajar otodidak. Untungnya sekarang zaman online, semua ilmu ada di sana. Kuncinya cuma kemauan keras dan keberanian nyoba.

Setelah satu unit sukses aku modif, aku PD buat ngerakit sendiri. Tapi namanya juga belajar, trial-and-error itu pasti. Dari empat unit yang kubeli, aku coba modif habis-habisan, eh, dua di antaranya malah kebakar! Rugi, sih, tapi itu pelajaran mahal.
Akhirnya, dua unit sisanya aku coba lagi dengan metode yang lebih hati-hati. Alhamdulillah berhasil! Unit yang berhasil itu aku pasang di tempat usaha sendiri.
Menemukan Model Bisnis: Kenapa Jual Lebih Menarik?
Yang seru itu bagian ini. Setelah berhasil, aku penasaran, coba jual satu unit deh. Ternyata laku keras, Mas! Padahal tadinya cuma buat backup usaha sendiri. Karena laku, kita jadi ketagihan. Kita perbaiki dua unit yang rusak tadi, terus kita jual lagi.
Lama-lama, mesin UPS yang harusnya jadi aset buat backup usaha sendiri, malah berubah jadi barang dagangan utama. Alhasil, usaha angkringan atau percetakan yang harusnya di-backup, malah sering enggak kebagian UPS, haha! Akhirnya, kita harus ambil lagi, stock lagi, dan kerjakan sendiri.
Perjuangan All-In Saat Pandemi
Masa Corona itu memang ujian terberat. Tim kerjaku semua enggak bisa datang. Jadi, aku kerjakan semuanya sendiri. Rutinitasku benar-benar all-in. Mulai dari habis Subuh langsung ngoprek dan packing barang. Bahkan, setelah Magrib, aku masih harus nganterin paketan ke ekspedisi karena enggak bisa mengandalkan kurir. Benar-benar kerja keras yang luar biasa.
Saat itu, dua usaha lamaku (percetakan dan angkringan) nol pemasukan. Aku sampai harus bagi dua uang kecil dengan anak buah yang enggak bisa pulang kampung karena Corona. Tapi di sisi lain, usaha UPS ini justru jadi berkah buatku.
Jaminan Kualitas dan Garansi Total
Buatku, kepercayaan pelanggan itu yang utama. Makanya, prinsipku cuma satu: alat ini harus bermanfaat buat yang beli.
Kita memang jual ada yang bekas dan baru. Tapi apapun kondisinya, kita berani kasih garansi total. Kalau ada kerusakan, kita ganti unit full, bukan cuma diperbaiki. Plus, free ongkir bolak-balik selama dua bulan. Hebatnya lagi, meskipun sudah setahun atau dua tahun berlalu, kalau ada keluhan, pasti kita layani. Semua unit kita kasih Nomor Kontak Personku langsung. Jadi, kita enggak main jual-lepas-jual-lepas begitu saja.
Uang Anda Terbuang Sia-sia Jika Tidak Tahu Strategi Ini
Kenapa ada bekas? Karena kita mengikuti pasar. Banyak yang minta baru, padahal unit bekas (second) itu jauh lebih murah dan kualitas mereknya built-up Eropa atau Amerika, jadi lebih bagus.
Memang ada saja customer yang tergiur sama barang impor dari Tiongkok yang cuma bagus di luarnya.
Ya sudah, kita layani, tapi garansi kita jamin. Tapi, saat ini, penjualan bekas yang berkualitas itu paling banyak. Kenapa? Karena customer sudah pintar, mereka tahu mana merek yang bagus dan mana yang jelek. Selain itu, unit bekas itu kebanyakan bekas kantor yang baru dipakai sebentar, jadi kondisinya masih sangat prima.
Modifikasi Ajaib: Memperpanjang Daya Tahan UPS
Kita tahu, UPS itu cuma didesain buat backup 5-15 menit. Tapi permintaan pasar kita itu ekstrem: minta tahan 1 jam, 3 jam, bahkan 24 jam nonstop!
Nah, ini trik rahasia kita. Kita enggak cuma ganti aki. Kita modif komponen di dalamnya, kita ganti, terus kita tambahin komponen tambahan. Ini dilakukan supaya UPS itu bisa mikir kalau dia kuat menahan beban listrik selama yang customer mau. Terutama untuk server WiFi yang targetnya enggak boleh mati selama satu tahun!
Kesimpulan: Menangkap Pergeseran Kebutuhan
Survei di tahun 2020 itu menunjukkan pergeseran ekstrem. Kebutuhan utama manusia saat itu bukan lagi makanan atau listrik, tapi koneksi internet! Tanpa Wi-Fi di masa Corona, orang jadi pusing.
Jadi, kita ambil celah yang sangat spesifik ini. Daripada bersaing di bisnis provider Wi-Fi yang modalnya miliaran, kita ambil celah sistem backup-nya. Intinya, semua unit yang keluar itu harus bermanfaat dan menjamin konektivitas mereka.
Pindah Kota, Resign Mendadak, dan Strategi “Balik Harga”
Keputusan Besar: Pulang ke Makassar
Dulu kan aku kerja keras banget ya. Siang kerja kantoran, malam sampai pagi nge-print buat usaha sampingan. Terus, aku bilang ke orang tua: “Bu, aku sudah dapat lokasi nih di Makassar buat toko pertama.”
Hari itu juga, aku langsung resign, Mas! Entah dapat gaji hari itu atau enggak, aku enggak peduli. Pokoknya langsung pulang! Kenapa? Soalnya pendapatan dari usaha sendiri itu jauh lebih banyak daripada gaji kantoran. Dulu, kita kan cuma bisa nge-print setelah pulang kerja jam 6 sore, itupun sampai jam berapa.
Melihat Peluang di Kampung Halaman
Aku lihat lokasi itu ada momentum yang bisa dimanfaatkan. Di situ ada kampus yang lagi berkembang pesat. Jadi, aku langsung mikir: sebelum banyak orang luar masuk, kenapa enggak warga lokal sendiri yang manfaatin? Ya sudah, aku langsung masuk!
Aku bawa konsep dari Kota asalku —sistem nge-print untuk mahasiswa. Tapi begitu diterapkan di Makassar, ternyata gagal! Nah, ini yang kita pelajari. Kita revisi, kita diskusi, sampai akhirnya ketemu formulanya yang pas.
Strategi “Buat Peluang” dan Balik Harga
Ini yang paling seru. Di mindset-ku, aku itu tidak mencari peluang, tapi kita yang buat peluang. Kita juga enggak mencari musuh, tapi kita manfaatkan kekurangan dari kompetitor.
Contoh kasus paling kecil: Di luar sana, fotokopi itu murah, tapi butuh waktu lama. Sementara nge-print itu mahal, padahal tinggal klik doang.
Ya sudah, kita balik! Kita switch harganya. Kita bikin nge-print jadi murah, dan fotokopi jadi mahal (karena butuh waktu dan tenaga). Dan berhasil!
Filosofi Bisnis: Berangkat dari Pengalaman Konsumen
Semua usahaku itu berawal dari kebutuhan saya sebagai customer dulu. Gimana sih maunya kita sebagai pembeli? Itu yang aku terapkan.
Percetakan/Fotokopi
Percetakan/Fotokopi : Customer itu maunya cepat, enggak mau berlama-lama. Makanya, aku punya target: maksimal 10 menit mereka harus sudah pergi! Jadi, pekerjaan yang simpel dan cepat kita tarik di situ. Kalau fotokopi banyak dan butuh waktu lama, ya kita lempar ke tempat lain dulu. Padahal, fotokopi kita itu paling banyak, lho! Tapi kita prioritaskan nge-print yang cepat.
Angkringan
Angkringan : Aku pengen tempat nongkrong yang santai. Mau datang lima kali sehari, sepuluh kali sehari, itu enggak sungkan. Jadi, konsepnya konvensional nyaman. Enggak harus estetik yang kaku. Yang penting Wi-Fi kencang, adem, santai, dan harga murah. Masalah foto-foto itu belakangan.
Bisnis UPS
Bisnis UPS : Dulu aku pernah beli UPS, tapi cuma dikirim. Enggak ada panduan cara pakai, operasikan, apalagi perawatannya. Nah, itu salah! Makanya, kalau kamu beli ke saya, pasti kita bantu. Kita buatkan panduan video sesuai unit yang dibeli, dan customer service kita selalu ready. Pembeli harus yakin dan percaya.
Menggandakan Diri: Dari Owner Jadi Supervisor
Prinsip pentingku: Saya harus bisa dulu, baru nanti ke karyawan. Kalau saya enggak bisa, siapa yang mau pegang? Takutnya nanti ada masalah, karyawan bingung.
Memang kalau belum ada karyawan, semua harus dipegang owner. Tapi kalau tim kita sudah kuat, saya bisa pergi. Kita tinggal pantau saja. Kayak sekarang, aku sudah jarang banget di toko percetakan, apalagi di angkringan. Soalnya, tim sudah bisa kita andalkan. Kita berhasil menduplikasi diri!
Titik Terendah: Tertipu Rp10 Juta dan Hidup dengan Telur Asin
Filosofi Totalitas dan Transfer Ilmu
Intinya, aku percaya dengan totalitas. Aku harus bisa dulu semua seluk-beluk usahanya. Setelah aku menguasai, baru kita ajari teman-teman tim di lokasi. Kalau owner sudah menguasai total, mau ditinggal pun aman.
Kegagalan Paling Pahit di Masa Kuliah
Titik pangkal struggle terberatku itu saat kuliah, Mas.
Pernah satu waktu, aku ketipu bisnis online sampai Rp10 juta. Uang segitu saat itu habis-habisan banget. Parahnya, aku enggak berani cerita ke siapa-siapa. Aku pendam sendiri.
Kenapa bisa ketipu? Murni kesalahan sendiri, karena nafsu mencari barang yang terlalu murah. Uangku saat itu tinggal Rp5.000. Aku sampai harus ngutang ke teman kos Rp20.000. Total Rp25.000 itu harus cukup buat dua minggu!
Bertahan Hidup dengan “Nasi dan Kuah Gratis”
Selama dua minggu itu, sangat sulit hidup di kota Makassar ini, Apalagi aku hidup bersama 3 orang anak, Namanya Arif, Baim, Tegar aku cuma makan telur 1 kg yang dibeli dari sisa uang. Jadi, setiap hari menu makanku cuma telur dan nasi. Nasi itu aku beli Rp2.000 di warung dekat kampus. Aku tunggu warungnya mau tutup, terus aku minta kuah gratis dari soto atau lauk lain. Benar-benar cuma kuah, biar nasi enggak kering! Seminggu full itu cuma makan telur dan kuah.
Laptop sudah ikut kejual (dan ketipu tadi). Sisa harta cuma HP jadul yang masih pakai SMS (padahal aku sudah usaha pulsa!).
Bangkit dari Keterpurukan
Akhirnya, aku nekat. Semua struggle itu aku tuangin di grup angkatan. Aku to the point minta: “Hei, yang punya utang pulsa, tolong bayar sekarang!”
Uang modal yang terkumpul dari “penagihan” utang itulah yang menyelamatkanku. Dari situ, aku beli printer pertama, dan usaha cetak kembali jalan.
Jujur, aku takut minta orang tua. Karena ini kesalahanku sendiri, aku harus bisa keluar dari masalah ini sendiri. Apalagi waktu itu di tengah bulan, enggak mungkin minta uang saku lagi. Makanya, kalau pulang ke rumah, orang tua cuma kasih uang saku nol, tapi dikasih telur asin sekardus. Itu sering banget di semester-semester awal!
Filosofi Final: Jangan Cari, Tapi Buat Peluang!
Dari semua pengalaman itu, aku punya satu keyakinan: Jangan cari peluang, tapi Buatlah peluang. Dan itu bisa dimulai dari kebutuhan diri kita sendiri.
- Contoh UPS: Peluangnya enggak ada karena yang tahu alat itu paling cuma satu dari seribu orang. Nah, kita buat peluang! Kita edukasi masyarakat. Kita share fungsinya, plus minus-nya, cara pakainya. Karena kita yang menciptakan pasar ini, kompetitor yang masuk juga sedikit.
- Contoh Print Warna: Dulu, usaha print di sekitar kampus kebanyakan cuma hitam putih. Kita enggak mau ikut-ikutan banting harga di situ. Akhirnya, kita buat peluang baru: cetak warna digital. Kita kasih alasan kenapa cetak warna itu lebih cepat, lebih bagus, dan lebih efisien. Kita tarik customer ke segmen itu, padahal kompetitor belum bisa atau belum mau cetak warna.
Intinya, kamu pasti bisa. Mulai saja dari apa yang kamu butuhkan, lalu buatlah itu jadi solusi untuk banyak orang.
Baca Juga : Peluang Usaha Bisnis Percetakan
Baca Juga : Cetak Yasin Makassar